Cantika

 Karya Arinda Samantha Wulandari

Cantika Asri, yaa itu namaku, nama yang telah Ayah berikan kepadaku, tetapi teman-teman memanggilku Tika. Usiaku 11 tahun, aku murid kelas 5 di SD Mandiri, SD yang cukup besar di kota tempat tinggalku yang kecil.


Ayahku bernama Bambang Sucipto, seorang pegawai di sebuah kantor perusahaan swasta. Walau pun badannya tinggi besar dan berkumis, tetapi beliau sangat baik seperti halnya ibuku yang bernama Kartika Dewi. Meskipun sedikit bawel, tapi beliau tetap ibuku yang cantik dan baik hati.

Aku juga punya seorang kakak, Bimasakti namanya. Badannya sangat besar dan tinggi seperti ayah, ditambah lagi karena dia memang seorang yang menyukai olahraga.


Setiap pagi aku selalu berangkat ke sekolah bersama seorang teman yang bernama Anita Sri Rahayu. Dia tetangga dan sahabat sekaligus sainganku di kelas. Rambutnya yang lurus sebahu selalu digerai, dengan bandana yang tidak pernah lepas. Sedangkan rambutku yang ikal dan panjang selalu diikat dua oleh ibu.


Hari ini kami berangkat dan pulang sekolah bersama-sama seperti biasa. Dengan menggunakan sepeda mini, kami menyusuri pinggiran jalan raya yang tidak begitu ramai. Sejak 2 tahun yang lalu ketika naik kelas 3, kami berdua-berangkat ke sekolah tanpa diantar. Sebenarnya ibu kami sangat khawatir, tetapi setelah kami berjanji untukberhati-hati, mereka pun mengijinkan.


"Sampai di sini ya, Tik. Nita pulang dulu...!" seru Nita sesampainya kami di rumahku sembari melambai dan meneruskan perjalanan menuju rumahnya yang hanya terhalang enam rumah saja.


"lya...! Besok bareng lagi, ya ...," kataku sambil melambai pada Nita yang tengah menggenjot sepedanya untuk pulang.


"Assalamualaikum, Bu.Tika pulang ni...!" seruku mengucap salam seperti biasanya.


"Waalaikumsalam, Tika...!" sahut Ibu seraya menghampiriku dan mengulurkan tangan.


Setelah aku menyimpan sepatu di rak dan berganti baju, aku pun segera mendekati Ibu di ruang makan dan makan siang bersama.


"Bagaimana belajarmu hari ini, Tik? Apakah ada kesulitan?" tanya Ibu kepadaku.


"Alhamdulillah tidak ada, Bu. Hanya saja, ketika pelajaran matematika tadi, Rudi dan Anto tidak bisa mengerjakan soal matematika yang diberikan Bu Ati. Padahal, mudah lho, Bu. Bu Ati sudah berulangkali menerangkan. Mereka memang tidak pernah serius kalau Bu Ati sedang menerangkan. Ada saja yang mereka lakukan. Akhirnya, hari ini mereka dihukum mengerjakan tugas matematika yang banyak di rumahnya, sedangkan aku dan teman-teman yang lain hanya diberi 5 buah soal. Oh ya, Bu, nanti kalau Tika sudah selesai sholat, Tika minta izin untuk bermain ke rumah Nita, ya," pintaku memohon kepada Ibu


"Kemarin kamu sudah main ke rumahnya Nita, kan? Apa kamu tidak malu jika setiap hari ke sana?" kata Ibu seraya mengelus rambutku


"Tapi, Tika diajak Nita untuk belajar bersama mengerjakan soal matematika dari Bu Ati, dan Tika sudah terlanjur menyetujuinya, Bu," jawabku merajuk.


"Baiklah Tika, tapi kamu juga harus janji. Nanti di sana jangan terlalu lama dan merepotkan Mamanya Nita. Setelah selesai langsung pulang ya..." kata ibu.


Aku pun langsung tersenyum dan mengacungkan kedua jempol untuk Ibu. Setelah sholat, aku segera berpamitan untuk pergi ke rumah Nita. Aku menggenjot sepedaku dengan riang dan 5 menit kemudian, aku pun sampai di rumah Nita.


"Assalamualaikum... Anita, Anita, ini Tika..." seruku di depan pintu rumah Nita. Tidak lama kemudian, terdengar jawaban salam disusul munculnya sesosok tubuh mungil dari balik pintu.


"Eh, Tika, ayo masuk. Nita sudah menunggu Tika dari tadi. Kebetulan Mama sedang membuat kue di dapur. Tapi, buku matematikanya tidak ketinggalan, kan?" tanya Nita dan segera kusambut dengan acungan jempolku, tanda bahwa aku tidak lupa membawa buku matematika.


"Ada siapa, Nit?" terdengar suara Mama Nita dari arah dapur, dan berjalan menghampiri aku dan Nita.Mama Nita masih muda berambut sebahu, tapi tidak berponi seperti Nita.


"Assalamualaikum, Bu. Tika mau belajar bersama Nita. Ada pekerjaan rumah dari Bu Ati hari ini. Jadi, kami mau menyelesaikannya bersama sama," kataku sambil menyalami Mama Nita.


"Oh, boleh Tika, silahkan. Apa kabar Mamanya Tika, sehat kan?" jawab Mama Nita balik bertanya.


"Alhamdulillah, Ibu saya baik-baik saja,"jawabku. 


"Ya sudah, ibu mau ke dapur lagi. Kalian silahkan belajar yang rajin, ya," kata Mamanya Nita sembari meninggalkan aku dan Nita.


"Ok, Bu!" jawab kami berdua kompak sambil mengacungkan jempol masing-masing. Setelah itu, kami pun segera mengerjakan tugas  matematika bersama-sama di kamar Nita. 


"Alhamdulillah..." ucap kami hampir bersamaan, setelah berhasil menyelesaikan tugas matematika.


"Nah, sekarang tugasnya sudah selesai. Sebelum Tika pulang, kita bermain boneka dulu,yuk..." ajak Nita. Dan tentu saja ide itu langsung aku tanggapi dengan gembira.


"Ayo, tapi kita mainnya di teras saja. Jangan sampai nanti Mama Nita marah karena melihat kamarnya Nita berantakan..." kataku.


"Ok, deh," jawab Nita seraya mengajak aku membawa boneka- bonekanya ke teras rumah. Kemudian, kami pun tertawa dan mulai bermain boneka.


"Nita, Tika, kalian di mana?" terdengar suara Mamanya Nita memanggil-manggil.


Kami pun menjawab dengan lantang, "Kami di sini..." 


"Oh, rupanya kalian di sini. Memang tugas matematikanya sudah selesai?" tanya Mamanya Nita penuh selidik. 


"Sudah Bu," jawab Nita seketika.


"Baiklah. Ibu hanya bertanya dan mau memberi kalian ini...." Kata Mamanya Nita seraya memamerkan kue bolu pandan hasil karyanya yang menebarkan aroma sedap.


Tanpa menunggu aba-aba, aku dan Nita segera berlari untuk mencuci tangan agar dapat segera menikmati kue bolu lezat buatan Mamanya Nita. Sambil memakan kuenya, aku tersenyum. Dalam hati aku berkata bahwa Mamanya Nita memang hebat seperti ibuku. Sudah cantik, baik, dan juga ahli membuat kue. Ayah Nita juga baik, beliau guru kelas 6 di sekolahku. Setiap bertemu denganku, beliau selalu menyapa dan tersenyum padaku.


"Nit, sudah sore, Tika mau pulang dulu, ya..." ucapku pada Nita. 


"Ini masih siang. Nanti saja..." cegah Nita.


"Tapi Ibu Tika berpesan kalau Tika tidak boleh bermain terlalu lama.


"Kapan-kapan Tika main lagi ke sini..." jawabku menghibur Nita.


"Ya sudah, tetapi besok tunggu Nita, ya. Kita berangkat bareng lagi," kata Nita.


Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada Mamanya Nita, aku pun segera pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, ternyata Ayah, Ibu dan Kak Bima sedang duduk santai di teras. Aku pun segera mengucapkan salam dan mencium tangan Ayah dan Ibu.


"Kok anak Ayah baru pulang?" tanya Ayah disertai senyuman.


"Tadi Tika belajar bersama Nita di rumahnya. Malah sempat makan kue bolu buatan Mamanya Nita. Enak lho, Yah," jawabku panjang lebar.


"Oh, bolu pandan..." jawab Ibu paham. "Besok Ibu buatkan, ya. Kak Bima juga pasti mau, kan?" tawar Ibu sambil menengok Kak Bima dan menggodanya.


"Tentu saja Bima mau, Bu. Kue buatan Ibu enak," jawab Kak Bima berseri-seri.


"Ah, emang kamu paling doyan makan, kan?" tambah Ayah menimpali dan hanya dijawab senyum malu-malu oleh Kak Bima. Kami pun tertawa melihat tingkah Kak Bima.


Sore itu memang sangat cerah, secerah dan cerianya keluarga kami yang sedang berbahagia.


Pada pagi harinya, seperti biasa aku berangkat sekolah bersama-sama seperti biasa. Dengan menggunakan sepeda mini kesayangan kita.


Sesampainya di sekolah aku segea memarkirkan sepedaku bersama Nita dengan rapi.Kami berdua berjalan di koridor sekolah.Keadaan sekolah masih sepi Murid-murid SD Mandiri belum banyak yang dating. Aku dan Nita segera memasuki kelas 5 A, untuk menyimpan tas. Setelah itu, Nita mengajak aku pergi ke luar kelas dan duduk di sana.


"Ada apa sih, Nit? Kenapa kita tidak menunggu bel masuk di kelas saja seperti biasanya, Lia dan Dewi juga sudah datang, kan?" tanyaku kepada Nita yang bertingkah tidak seperti biasanya. Nita hanya diam. Akhirnya, aku ikut ketika tanganku ditarik oleh Nita menuju ke luar kelas. Kemudian, Nita pun mulai bercerita.


"Kemarin Ayahku bilang kalau dia dipindah tugaskan ke luar daerah," kata Nita tiba-tiba.


"Terus kenapa?" tanyaku bingung.


"Kata Ayah, dia akan ditugaskan di Banten. Ayahku akan jadi kepala sekolah di SD yang ada di sana. Kalau naik mobil bisa sampai 4 atau 5 jam. Jaraknya jauh, kan?'' jelas Nita.


"Memangnya kalau jauh kenapa, Nit? Hebat dong, kalau Ayah Nita diangkat jadi kepala sekolah." Aku masih belum mengerti.


"Tika, Ayahku sekarang diangkat menjadi kepala sekolah itu memang hebat, tetapi sekolahnya sangat jauh dari rumah kami. Jadi, sekarang Ayah memutuskan kalau aku dan Mama harus ikut Ayah ke sana. Itu berarti kami harus pindah rumah karena di sana Ayah sudah diberi rumah dinas," Nita menjelaskan dengan tidak sabar.


Sejenak aku diam dan berusaha mengerti. Tetapi kemudian...


"Kalau begitu, kalau pindah rumah ke tempat jauh, sekolah Nita juga pindah, ya? Terus kita tidak bisa sekolah dan main bersama lagi?" aku balik bertanya ingin meyakinkan. 


"Terus, nanti aku main sama siapa?" kataku menambahkan dengan sedih seraya menatap Nita.

Anita pun hanya menggeleng, karena memang sejak pertama kenal ketika naik kelas 2, kami tidak pernah terpisahkan. Walau pun teman kami banyak, kami tetap bermain bersama-sama.


"Jangan-jangan, kamu salah dengar, Nit?" tanyaku kemudian dan disambut kembali dengan gelengan kepala Nita, tanda ia tidak salah mendengar.


"Maaf ya, Tik. Nita juga bertanya pada Ayah kenapa harus pindah? Kenapa tidak menjadi kepala sekolah di sini saja menggantikan Pak Bowo. Tetapi katanya, ini sudah kewajiban Ayah untuk melaksanakan tugas dari pekerjaannya," kata Nita kemudian.


"Tetapi, mungkin saja itu baru rencana, Nit. Jadi mungkin saja itu masih lama, kan? Atau bisa saja rencana itu batal," kataku lagi sambil masih berharap.


"Nita juga tidak tahu. Semoga saja tidak jadi," jawab Nita mulai bersemangat sambil tersenyum. Kami berdua yakin masih ada harapan yang akan membuat kami tetap bersama.


"Teet...teet...!" Aku dan Nita dikejutkan oleh suara bel tanda masuk yang sangat memekakkan telinga. Kami pun segera berlari untuk masuk kelas mengikuti pelajaran matematika, pelajaran pertama di hari ini dan merupakan pelajaran favorit kami.


Satu minggu kemudian, berita yang tidak aku inginkan pun tiba.


"Tik, kata Ayah, kami besok berangkat untuk pindah. Kami berangkat sore, jadi kalau kamu mau kita bisa main dulu di rumahku sampai siang. Gimana?" Nita memberitahukan kepindahannya kepadaku ketika istirahat berlangsung.


"Lho, kok mendadak, sih! Jadi tidak bisa dibatalkan, ya?" tanyaku kaget tidak percaya.


"Iya, aku dan Mama juga kaget. Kami diberi tahu Ayah kalau suratnya datang mendadak. Dan Ayah harus segera bertugas di sana karena kepala sekolahnya sudah pensiun sehingga tidak bisa bekerja lagi," terang Nita. Mendengar itu, aku tidak bicara lagi. Bahkan sampai kami pulang, aku hanya berbicara seperlunya kepada Nita.


Akhirnya, malam pun berlalu dan pagi menjemput sang surya. Hari perpisahan itu pun datang juga. Seharian aku hanya bermalas malasan. Dari pagi hingga siang, aku hanya menonton TV dan tidur-tiduran di kamar. Bahkan, ketika disuruh mandi dan ditanya Ibu kenapa aku tidak pergi ke rumah Nita selagi mereka belum berangkat, aku hanya menjawab bahwa aku malas dan mengantuk. Ibu memang cukup paham dengan tabiatku. Menjelang sore, aku tertidur pulas di kamar tanpa mandi dan mengunci pintu dari dalam.


Esoknya, aku pergi ke sekolah seperti biasa, begitu pula dengan hari- hari berikutnya. Hanya saja, sekarang aku harus berangkat sendiri tanpa ada lagi yang menemani. Dalam hati aku menyesal kenapa ketika masih sempat, aku tidak menemui Nita. Bahkan, saat Ibu bercerita bahwa Nita dan keluarganya datang ke rumah untuk berpamitan, aku makin bertambah sedih. Semua gara-gara kemalasanku, tidak mau menerima kenyataan bahwa Nita harus pindah dan yang pasti karena aku mengunci pintu kamar sehingga ibu tidak bisa masuk untuk membangunkanku dari tidur ketika mereka datang. Sekarang, aku jadi sering melamun setelah kepergian Nita.


"Selamat pagi, anak-anak..." salam Bu Tuti, guru kelasku ketika pertama masuk ke dalam kelas, dan segera dijawab olehku dan teman- teman.


"Anak-anak, hari ini kalian mendapatkan seorang teman baru. Kalian bisa dengarkan dan tanyakan padanya apa yang ingin kalian tahu," terang Bu Tuti seraya memanggil seseorang dari depan kelas. Lalu, muncullah seorang anak perempuan. Dia cantik dan berambut pendek dengan model yang bagus seperti yang sering aku lihat di televisi.


"Hai, perkenalkan, nama saya Amara Anastasya, panggil saja saya Tya. Saya pindahan dari Surabaya. Saya pindah dari sana karena ayah saya dipindahtugaskan untuk memegang sebuah perusahaan di sini," kata Tya memperkenalkan dirinya.


Seperti biasa, teman-temanku sibuk bertanya tentang alamat, hobi, dll. Sedangkan aku hanya diam saja mendengarkan dan  sesekali membayangkan bahwa mungkin Nita juga seperti itu ketika pertama kali datang di sekolah barunya.


"Hai, nama kamu siapa?" terdengar Tya bertanya padaku seraya mengulurkan tangannya.


"Cantika Sari," jawabku dengan menerima tangan Tya untuk berjabat tangan.


"Baiklah anak-anak, keluarkan buku bahasa Indonesia kalian sekarang dan kita mulai belajar," kata Bu Tuti memulai pelajaran. Aku dan Tya segera diam untuk mengikuti pelajaran Bu Tuti.


"Sayang ya, rumah kita tidak dekat dan searah. Coba kalau begitu, pasti lebih asyik," ucap Tya suatu hari.


"Iya, dulu aku punya teman namanya Nita.

Tetapi sebulan yang lalu dia pindah karena ayahnya dipindah tugaskan seperti bapak kamu," jelasku.


"Oh, jadi sama dong. Tetapi kita tetap bisa bermain bersama di sekolah, kan?" tanya Tya yang aku sambut dengan anggukan dan senyuman.


Sejak saat itu, aku makin akrab dengan Tya, seperti dengan Nita dulu. Hanya saja, Tya tidak sepintar Nita dulu sehingga Tya tidak menjadi sainganku menjadi juara kelas.


Saat ujian akhir semester 2 datang, aku menghadapinya dengan santai dan percaya diri. Dan akhirnya, aku tetap menjadi siswa terbaik di kelas.


Seperti biasa, setelah ujian berakhir selalu ada minggu libur. Liburan kali ini, aku dan keluarga tidak memiliki rencana apa pun. Kami hanya akan menikmati masa-masa liburan dengan bersantai di rumah. Termasuk Ayah yang sengaja mengambil cuti demi menghabiskan waktu bersama kami di rumah.


"Assalamualaikum," terdengar suara dari pintu depan. "Waalaikumsalam, sebentar ya," jawabku seraya beranjak ke ruang

tamu dan membuka pintu. Setelah pintu terbuka, tiba-tiba aku menjerit.

"Nita!" seruku tidak percaya. Kemudian kami pun saling berpelukan. Untuk sesaat, aku lupa mempersilakan Ayah dan Mama Nita yang juga ikut datang.

"Mari silakan masuk, Bu, Pak," kata Ibu yang tiba-tiba sudah berada di belakangku.

"Tika, ada tamu kok tidak cepat dipersilakan masuk, sih!" kata Ibu kepadaku. Setelah mempersilakan tamunya untuk duduk, Ibu segera pamit ke belakang. Dengan ditemani Ayahku, Ayah dan Mama Nita menceritakan maksud kedatangan mereka. Aku dan Nita pun segera lari ke kamar untuk melepas rindu dan bertukar pengalaman yang tidak sempat kami ceritakan di dalam surat.

Anita dan keluarganya tidak menginap di rumahku sehingga aku dan Nita pun harus berpisah kembali. Dengan berat hati, aku melepaskan kepergian Nita bersama kedua orang tuanya. Namun, aku bersyukur karena walaupun sebentar, aku dapat bertemu dengan sahabat lamaku ini.

Satu minggu liburan akhirnya berlalu. Pagi ini, Ayah menerima telepon, tetapi aku tidak tahu dari siapa. Untuk pertama kalinya, aku melihat Ayah segembira ini. la terdengar tertawa lepas. Ayah juga menyebut-nyebut namaku sehingga aku menjadi curiga, Namun, ketika didekati, Ayah segera memintaku pergi seakan-akan tidak ingin diketahui rahasianya.

Karena sudah waktunya untuk berangkat sekolah, aku pun segera berpamitan kepada Ayah dan Ibu. Setibanya di sekolah, aku langsung duduk di dalam kelas menunggu bel tanda masuk berbunyi. 

Tak lama kemudian, "teet - teet!" bel tanda masuk pun berbunyi.

"Anak-anak, selamat pagi!" Bu Tuty tiba-tiba masuk ke dalam kelas. 

"Anak-anak, hari ini sebelum Ibu mengajak kalian untuk memulai pelajaran, Ibu akan memberikan pengumuman. Hari ini kalian kembali mendapatkan teman baru. Mungkin banyak dari kalian yang sudah tahu, tetapi tidak ada salahnya untuk memulai kembali perkenalan. Silahkan masuk, Nak!" Bu Tuty mempersilakan anak baru tersebut masuk. Dan begitu ia masuk, aku pun kaget sehingga tanpa sadar aku memanggil namanya.

"Nita!" aku berteriak seraya berlari dan memeluk Anita yang berada di depan kelas. Aku tidak percaya bahwa murid baru yang dimaksud oleh Bu Tuty adalah Anita. Ternyata, Ayah Anita ditugaskan menjadi kepala sekolah di sekolahku untuk menggantikan Pak Bowo, kepala sekolahku yang dulu.

Aku tidak tahu hal itu karena Ayah Nita memang belum dilantik untuk disahkan menjadi kepala sekolah di SD-ku.

Hatiku sangat bahagia dan terharu karena Nita yang menjadi sahabat penaku selama ini kembali bersekolah di sini dan menjadi sahabat terdekatku. Walau pun demikian, aku tetap bertekad untuk tidak melupakan hobiku dalam berkorespondensi dan filateli karena keduanya memang berguna dan menyenangkan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Impian Nabil